Oleh : Nanang Fahlevi
Polemik ISIS (Islamic State of
Iraq and Syiria) tampak masih menjadi perebatan hangat di dunia internasional.
Tujuan utama gerakan ini, yakni dengan dalih menciptakan negara Islam juga
menuai protes. Pendirian negara Islam berdasar khilafah islamiyah yang
terus digencarkan, mendorong mereka untuk terus memerangi non-Muslim. Tata
undang-undang syariat Islam yang ditujukan, ingin mengajak umat dunia untuk
bernegara sama halnya dinasti khalifah. Tak heran, jika golongan yang tergabung
dalam organisasi ini cukup banyak. Dengan doktrin status negara musti
bertendensi al-Qur’an dan Hadits. Dengan berdalih doktrin bahwa sistem
bernegara ketika zaman nabi dan sahabat yang menerapkan syariat islam.
ISIL atau ISIS, serta dalam
akronim arab DAESH (الدولة الإسلامية في العراق والشام)
ini mulai bergerak oleh loyalis Osama bin Laden pada 1999. Abu Musab al-Zarqowi
seorang Islamis radikal ketika itu membangun gerakan jihad di Jordania yang
kemudian diketahui migrasi ke Irak dengan menamakan jaringan al-Qaeda Irak.
Tujuannya adalah pemberontakan kepada pemerintah Irak saat itu setelah
peristiwa 11/9 untuk mencipkatan pemerintahan baru. Sehingga setelah tahun 2006
Musab tewas digantikan penerusnya Abu
Abdullah al-Rashid al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Masri dengan jaringan ISI (Islamic
State of Iraq) yang kemudian tewas dalam operasi Amerika ke Irak tahun
2010. Kemudian gerakan ini dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Pada April 2013,
Abu Bakr melakukan ekspansi ke Syiria untuk kemudian melebarkan sayap jaringan
ini dan mengadopsi nama dari jaringan sebelumnya menjadi Islamic State of
Iraq and al-Sham. Di wilayah inilah, pergerakan mulai dilakukan secara
besar-besaran. Sehingga pada Juni 2014 dideklarasikan (IS) Islamic State
sampai sekarang.
Banyak kalangan menyatakan
gerakan sporadis jaringan ini tidak dapat ditolerir. Lebih dianggap sebagai
kelompok teroris atau penjajah, bukan kelompok Islam yang seharusnya lebih bisa
berkomunikasi damai. Pengamat terorisme Agus Maftuh Abegebriel mengatakan, “Tingkat
bahayanya jelas lebih besar dari al-Qaeda, bahkan model perjuangan ISIS sudah
sangat berbeda dari gerakan-gerakan radikal yang selama ini ada. Umumnya
radikalisme bekerja tanpa batasan atau memiliki faham khalifah global.
Sebaliknya, ISIS sudah jelas-jelas memiliki tujuan yakni membentuk dan
menguasai suatu negara”. Yakni, jika
dikatakan ISIS berkarya untuk ke-khalifahan, hal itu sudah jauh melenceng dari
tujuan. Berdasar epistomologis politik, Islam State seharusnya tanpa batasan,
dan ISIS ternyata menunjukkan jalan berfikir yang rancu –ada sebuah batas yang
diinginkan.
Jelas bahwa pemurnian kembali kepada
jalan Muhammad bukan lagi basis utama pergerakan mereka. Islam dan Muhammad
dijadikan sebagai kedok sebagai stimulus kekuasaan. ISIS sengaja membungkus
gerakan kemerdekaan mereka dengan simbolisme keagamaan. Berbeda dengan al-Qaeda
yang juga ingin memperjuangkan khilafah, namun ISIS lebih memperjuangkan
berdirinya sebuah negara atau dengan kata lain, ISIS merupakan sekumpulan
pemberontak yang kemudian menjual ideologi menjadi kekuatan internasional. Pendirian
daulah islamiyah yang sering digunakan sebagai doktrin pengikutnya
justru hanya sebagai kedok politisasi mereka. Tujuan sebenarnya ingin menguasai
kursi pemerintahan.
Pergerakan juga sudah merambah
untuk mempersenjatakan anggotanya dengan dana yang mereka galang. Pertama,
ingin menunjukkan kekuatan militan mereka yang barangkali dengan dipersenjatai
lengkap, lebih mudah dalam mempertahankan invasi mereka. Kedua, tentang
mempertontonkan pembunuhan sadis dan masal yang banyak diunggah di media sosial
hanyalah sikap protes dan arogansi kepada pemerintah. Sebab itulah banyak
menyita perhatian internasional untuk bagaimana melakukan strategi penumpasan
IS.
Bahkan thecanadiancharger.com
melalui kutipan Dr. Muhammad Al-Masry mengatakan, tentara teroris Negara Islam teridentifikasi
dari kalangan asing atau barat, terutama tentu umat Islam. Tetapi jumlah
non-Muslim dengan pengalaman militer lebih baik yang telah banyak mengisi
jajaran tinggi dan penting. Salah satunya terdapat seorang mantan perwira
tentara Inggris yang telah tergabung dengan pasukan IS. Sedikit khalayak
mengetahui informasi terkait hal ini. Bahwa ternyata tentara IS diciptakan
empat tahun lalu oleh AS untuk menggulingkan rezim diktator Suriah/Syiria
Bashar Assad.
Beberapa juga telah megetahui
bahwa Turki, terutama di Turki utara yang tepat berada di perbatasan Suriah,
mayoritas dikuasai oleh pemerintah dari kalangan Muslim bersaudara (Muslim Brotherhood).
Sebagai anggota NATO, ternyata di Turki utara ini telah lama dijadikan aksi
perekrutan anggota, sebagai markas inlelejensi, pelatihan angkat senjata dan
melengkapi jumlah persenjataan untuk kepentingan AS. Dikarenakan di Irak,
Lebanon dan Yordania, yang berada pada berbatasan Suriah, dianggap AS tidak
sebagai kawasan yang strategis untuk melancarkan kegiatan ini. Kemungkinan
disebabkan kawasan tiga negara tersebut tidak masuk dalam lingkaran organisasi
keamanan dunia bentukan AS. Sedangkan untuk hal pendanaan, Qatar lah yang bersedia
menyediakan biaya operasional aksi ini.
Imbas dari aksi struktural ini,
banyak warga negara yang mayoritas beragama Islam andil dalam aksi ini dengan
iming-iming urusan finansial akan tercukupi. Pada 6 Maret 2015, Deputi
Inspektur Jenderal Polisi Malaysia mengatakan dalam New Straits Times,
"dengan bantuan lembaga penegak internasional, kami telah mengidentifikasi
lebih dari 60 warga Malaysia yang telah bergabung IS militan di Suriah."
Dia menambahkan bahwa setiap orang Malaysia yang terlibat akan ditangkap dan
diselidiki kemudian akan dideportasi.
ISIS dapat dikatakan berjualan
ideologi Islam, Islam radikal yang menjurus kepada faksi politik Islam. Embrio Islam
politik ini selain merambah ke Malaysia juga sampai ke masyarakat Indonesia dan
bahayanya bibit ini sudah tersebar di Indonesia. Ketika dipupuk, dengan mudah
akan berkembang dan tumbuh besar. Penulis katakan, orang abangan akan
mudah disulut dengan ideologi semacam ini. Berarti bukan malah dari pemain muslim
yang memiliki intelektualitas pemahaman kompleks tentang islam.
Di Indonesia atau di manapun,
pemerintah setempat seharusnya tegas dan harus serius memberikan informasi yang
benar untuk meluruskan Ini adalah skema struktural yang diatur oleh sebuah
negara tertentu, atau bahkan urusan perut. Seseorang yang tertarik masuk ISIS
umumnya disebabkan faktor finansial. Sebab ISIS menjanjikan uang yang jauh
lebih besar apabila bergabung.
Sekali lagi ini hanyalah strategi
politik yang goal-nya adalah entitas kekuasaan sebuah negara. Tidak tahu
apakah memang benar-benar wujud negara Islam atau hanya mengincar ladang
potensial untuk sebuah kekayaan.