19 Januari 2015, waktu tak teduga ketika tiba-tiba alam menekan dari berbagai arah. Perasaan senthet ( bahasa jawa, berarti : retak ) meluluh lantahkan jiwa, sehingga sifat alami dengan sendirinya muncul. Tak karuan rasanya, jika harus merasa untuk merelakan sesuatu yang tak bisa sebegitu hebat dielakkan. Kondisi yang selama ini terbiasa mendengar kemarahan, penyesalan hingga tawa bahagia melingkupi jalan normal sehari-hari.
Analogi hujan ketika turun deras yang serta merta siap untuk membuat apa saja goyah. Ketika rumah terpasang genteng dan tidak begitu kuat untuk menahan dempuran keras air hujan sudah musti akan senthet, dan merembes ke tembok di berbagai sisi ruang sebuah rumah. Bahkan jika Tuhan menghendaki lebih, rumah akan hancur oleh dempuran keras air hujan itu. Memang harus diperpaiki, walaupun akan sulit kembali ke bentuk semula. Kalaupun tak sampai merobohkan, genteng dapat ditambal ataupun diganti dengan yang baru. Ya, rumah yang dipasang dengan genteng yang baru akan serasa lebih menarik. Tetapi itulah rumah, sebuah bangunan fisik yang direka oleh manusia, kapan saja bisa dibangun dan dihancurkan. Genteng senthet, dapat ditambal atau ditumpuki genteng yang baru.
Seorang yang jiwanya senthet akan lama dapat ditambal, bahkan untuk pun sekedar dilupakan. Kuasa Tuhan ini memang diciptakan menjadi sebongkah alat vital yang unik. Perasa bagi seluruh gimik penciptaan di alam semesta ini. Akan cepat tumbang ketika tersentuh dengan hal-hal yang cukup sensitif. Memang hal-hal yang berputar di semesta ini akan tersimpan atau disimpan di alat vital ini. Tanpa bisa disuarakan atau memang harus segera disuarakan. Akan berakibat fatal simpanan perasaan yang ditanam melebihi kuota dasar penyimpanan, yang ketika tidak dikeluarkan akan mengubah jiwa normal seseorang.
Merasa sia-sia perlakuan selama ini bukan menjadi hal yang manfaat atau berkesan. Bukan pula berpulang pada dasar primbon jawa yang mengatakan, "tidak akan saling ketemu dua angka kelahiran dari weton yang berbenturan". Bukan juga ikhtiar yang disematkan sebagai dasar kepercayaan tidak berlaku dan berjalan normal. Doa pun sebagai salah satu persimpuhan terakhir hubungan vertikal antara hamba dengan pencipta tidak didengungkan. Jiwa ini memang tak lekang waktu berharap, mengharap kepada Tuhan. Entah, pada akhirnya rasa senthet menjadi sesuatu yang tiba-tiba melanda.
Cukup bisa diucap, senthet akan bisa ditambal tak dilupakan, tidak juga dibakar agar tidak melihat yang tersisa. Toh, seleksi alam akan tiba nanti pada masanya. Tidak cukup hanya dipendam, dirisaukan, diratapi dengan kenaifan. Sehingga sementara waktu jiwa yang senthet harus dijalankan seolah-olah normal untuk kembali tegap merasakan sisa kenikmatan semesta ini.
Salam pisah temu, seseorang di negeri nun jauh sana. Hore...
