Selasa, 07 Juli 2015

Ideologi Rancu Negara Islam


Oleh : Nanang Fahlevi

Polemik ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) tampak masih menjadi perebatan hangat di dunia internasional. Tujuan utama gerakan ini, yakni dengan dalih menciptakan negara Islam juga menuai protes. Pendirian negara Islam berdasar khilafah islamiyah yang terus digencarkan, mendorong mereka untuk terus memerangi non-Muslim. Tata undang-undang syariat Islam yang ditujukan, ingin mengajak umat dunia untuk bernegara sama halnya dinasti khalifah. Tak heran, jika golongan yang tergabung dalam organisasi ini cukup banyak. Dengan doktrin status negara musti bertendensi al-Qur’an dan Hadits. Dengan berdalih doktrin bahwa sistem bernegara ketika zaman nabi dan sahabat yang menerapkan syariat islam.  

ISIL atau ISIS, serta dalam akronim arab DAESH (الدولة الإسلامية في العراق والشام) ini mulai bergerak oleh loyalis Osama bin Laden pada 1999. Abu Musab al-Zarqowi seorang Islamis radikal ketika itu membangun gerakan jihad di Jordania yang kemudian diketahui migrasi ke Irak dengan menamakan jaringan al-Qaeda Irak. Tujuannya adalah pemberontakan kepada pemerintah Irak saat itu setelah peristiwa 11/9 untuk mencipkatan pemerintahan baru. Sehingga setelah tahun 2006 Musab tewas digantikan penerusnya  Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Masri dengan jaringan ISI (Islamic State of Iraq) yang kemudian tewas dalam operasi Amerika ke Irak tahun 2010. Kemudian gerakan ini dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Pada April 2013, Abu Bakr melakukan ekspansi ke Syiria untuk kemudian melebarkan sayap jaringan ini dan mengadopsi nama dari jaringan sebelumnya menjadi Islamic State of Iraq and al-Sham. Di wilayah inilah, pergerakan mulai dilakukan secara besar-besaran. Sehingga pada Juni 2014 dideklarasikan (IS) Islamic State sampai sekarang.

Banyak kalangan menyatakan gerakan sporadis jaringan ini tidak dapat ditolerir. Lebih dianggap sebagai kelompok teroris atau penjajah, bukan kelompok Islam yang seharusnya lebih bisa berkomunikasi damai. Pengamat terorisme Agus Maftuh Abegebriel mengatakan, “Tingkat bahayanya jelas lebih besar dari al-Qaeda, bahkan model perjuangan ISIS sudah sangat berbeda dari gerakan-gerakan radikal yang selama ini ada. Umumnya radikalisme bekerja tanpa batasan atau memiliki faham khalifah global. Sebaliknya, ISIS sudah jelas-jelas memiliki tujuan yakni membentuk dan menguasai suatu negara”.  Yakni, jika dikatakan ISIS berkarya untuk ke-khalifahan, hal itu sudah jauh melenceng dari tujuan. Berdasar epistomologis politik, Islam State seharusnya tanpa batasan, dan ISIS ternyata menunjukkan jalan berfikir yang rancu –ada sebuah batas yang diinginkan.

Jelas bahwa pemurnian kembali kepada jalan Muhammad bukan lagi basis utama pergerakan mereka. Islam dan Muhammad dijadikan sebagai kedok sebagai stimulus kekuasaan. ISIS sengaja membungkus gerakan kemerdekaan mereka dengan simbolisme keagamaan. Berbeda dengan al-Qaeda yang juga ingin memperjuangkan khilafah, namun ISIS lebih memperjuangkan berdirinya sebuah negara atau dengan kata lain, ISIS merupakan sekumpulan pemberontak yang kemudian menjual ideologi menjadi kekuatan internasional. Pendirian daulah islamiyah yang sering digunakan sebagai doktrin pengikutnya justru hanya sebagai kedok politisasi mereka. Tujuan sebenarnya ingin menguasai kursi pemerintahan.

Pergerakan juga sudah merambah untuk mempersenjatakan anggotanya dengan dana yang mereka galang. Pertama, ingin menunjukkan kekuatan militan mereka yang barangkali dengan dipersenjatai lengkap, lebih mudah dalam mempertahankan invasi mereka. Kedua, tentang mempertontonkan pembunuhan sadis dan masal yang banyak diunggah di media sosial hanyalah sikap protes dan arogansi kepada pemerintah. Sebab itulah banyak menyita perhatian internasional untuk bagaimana melakukan strategi penumpasan IS.

Bahkan thecanadiancharger.com melalui kutipan Dr. Muhammad Al-Masry mengatakan, tentara teroris Negara Islam teridentifikasi dari kalangan asing atau barat, terutama tentu umat Islam. Tetapi jumlah non-Muslim dengan pengalaman militer lebih baik yang telah banyak mengisi jajaran tinggi dan penting. Salah satunya terdapat seorang mantan perwira tentara Inggris yang telah tergabung dengan pasukan IS. Sedikit khalayak mengetahui informasi terkait hal ini. Bahwa ternyata tentara IS diciptakan empat tahun lalu oleh AS untuk menggulingkan rezim diktator Suriah/Syiria Bashar Assad.

Beberapa juga telah megetahui bahwa Turki, terutama di Turki utara yang tepat berada di perbatasan Suriah, mayoritas dikuasai oleh pemerintah dari kalangan Muslim bersaudara (Muslim Brotherhood). Sebagai anggota NATO, ternyata di Turki utara ini telah lama dijadikan aksi perekrutan anggota, sebagai markas inlelejensi, pelatihan angkat senjata dan melengkapi jumlah persenjataan untuk kepentingan AS. Dikarenakan di Irak, Lebanon dan Yordania, yang berada pada berbatasan Suriah, dianggap AS tidak sebagai kawasan yang strategis untuk melancarkan kegiatan ini. Kemungkinan disebabkan kawasan tiga negara tersebut tidak masuk dalam lingkaran organisasi keamanan dunia bentukan AS. Sedangkan untuk hal pendanaan, Qatar lah yang bersedia menyediakan biaya operasional aksi ini.

Imbas dari aksi struktural ini, banyak warga negara yang mayoritas beragama Islam andil dalam aksi ini dengan iming-iming urusan finansial akan tercukupi. Pada 6 Maret 2015, Deputi Inspektur Jenderal Polisi Malaysia mengatakan dalam New Straits Times, "dengan bantuan lembaga penegak internasional, kami telah mengidentifikasi lebih dari 60 warga Malaysia yang telah bergabung IS militan di Suriah." Dia menambahkan bahwa setiap orang Malaysia yang terlibat akan ditangkap dan diselidiki kemudian akan dideportasi.

ISIS dapat dikatakan berjualan ideologi Islam, Islam radikal yang menjurus kepada faksi politik Islam. Embrio Islam politik ini selain merambah ke Malaysia juga sampai ke masyarakat Indonesia dan bahayanya bibit ini sudah tersebar di Indonesia. Ketika dipupuk, dengan mudah akan berkembang dan tumbuh besar. Penulis katakan, orang abangan akan mudah disulut dengan ideologi semacam ini. Berarti bukan malah dari pemain muslim yang memiliki intelektualitas pemahaman kompleks tentang islam.

Di Indonesia atau di manapun, pemerintah setempat seharusnya tegas dan harus serius memberikan informasi yang benar untuk meluruskan Ini adalah skema struktural yang diatur oleh sebuah negara tertentu, atau bahkan urusan perut. Seseorang yang tertarik masuk ISIS umumnya disebabkan faktor finansial. Sebab ISIS menjanjikan uang yang jauh lebih besar apabila bergabung.

Sekali lagi ini hanyalah strategi politik yang goal-nya adalah entitas kekuasaan sebuah negara. Tidak tahu apakah memang benar-benar wujud negara Islam atau hanya mengincar ladang potensial untuk sebuah kekayaan.
Share: